Stop!!!!
Jangan gagal faham dulu.
Jadi ini bukan pemberontakan loh ya.
Ini soal bagaimana kami bertahan hidup.
Yes, that's true...
Kok bisa?
Latar belakang kami sebagai orang tertinggal dan perekonomian kelas bawah adalah indikator mayor.
Geografis sebenarnya bukan faktor, akan tetapi rendahnya kualitas SDM, diakui atau tidak adalah batu besar yang menghalangi kami untuk maju dalam bidang ekonomi.
Lingkungan kami masih berada jauh dari perkotaan. kami harus menempuh satu kilo-an untuk mencium bau aspal, dan kurang lebih 3 kiloan untuk beradu mulut di pasar tradisional.
tapi,,,
Untuk era saat ini, di mana semua dipermudah. harusnya itu semua bukan masalah.
Yang terpenting adalah bagaimana seseorang itu mencari terobosan-terobosan bagi apa yang dia inginkan.
Dalam ekonomi misalnya, saudarakau adalah produsen makanan ringan yang terbuat dari kacang-kacangan. Setiap hari dia memproduksi dan menjualnya di daerah wisata Candi Borobudur.
Pertanyaannya, kenapa harus dijual di sana?
Alasannya tentu di sana adalah kawasan wisata, nilai konsumtif tinggi, dan tentunya pasar kota akan membedakan harga produk.
Apa yang salah?
Tidak ada yang salah untuk kekuatan SDM pingiran seperti kita. Bahkan itu adalah aset yang perlu kita optimalkan bersama. Berawal dari satu orang produsen yang memulai langkah interpreneur, akan menularkan jiwa wirausaha, dengan catatan adanya kerjasama berbagai pihak.
Sedikit menganalisa apa yang dilakukan masyarakat untuk bertahan hidup di daerah kita, lebih dari 50% dari mereka menggantungkan hidup dari operasional batu bata.
Mulai dari pengrajin tanah sendiri, pengrajin sewa, buruh batu bata lepas, agen distributor batu bata, penjual kayu, dan lain sebagainya. Semua masih berkecimpung di arus industri batu bata.
Pengolahan batu bata memang sangat mudah. Yang terpenting punya tanah dan air. Untuk marketing juga tidak perlu mencari, karena sudah ada para juragan yang mau menampungnya.
Tapi,, apakah tanah dan air kita kekal?
apakah tanah dan air kita akan menjawab pertanyaan anak cucu kita nanti jika bertanya, "aku harus ngapain di desa ini kek?".
Jangan gagal faham dulu.
Jadi ini bukan pemberontakan loh ya.
Ini soal bagaimana kami bertahan hidup.
Yes, that's true...
Kok bisa?
Latar belakang kami sebagai orang tertinggal dan perekonomian kelas bawah adalah indikator mayor.
Geografis sebenarnya bukan faktor, akan tetapi rendahnya kualitas SDM, diakui atau tidak adalah batu besar yang menghalangi kami untuk maju dalam bidang ekonomi.
Lingkungan kami masih berada jauh dari perkotaan. kami harus menempuh satu kilo-an untuk mencium bau aspal, dan kurang lebih 3 kiloan untuk beradu mulut di pasar tradisional.
tapi,,,
Untuk era saat ini, di mana semua dipermudah. harusnya itu semua bukan masalah.
Yang terpenting adalah bagaimana seseorang itu mencari terobosan-terobosan bagi apa yang dia inginkan.
Dalam ekonomi misalnya, saudarakau adalah produsen makanan ringan yang terbuat dari kacang-kacangan. Setiap hari dia memproduksi dan menjualnya di daerah wisata Candi Borobudur.
Pertanyaannya, kenapa harus dijual di sana?
Alasannya tentu di sana adalah kawasan wisata, nilai konsumtif tinggi, dan tentunya pasar kota akan membedakan harga produk.
Apa yang salah?
Tidak ada yang salah untuk kekuatan SDM pingiran seperti kita. Bahkan itu adalah aset yang perlu kita optimalkan bersama. Berawal dari satu orang produsen yang memulai langkah interpreneur, akan menularkan jiwa wirausaha, dengan catatan adanya kerjasama berbagai pihak.
Sedikit menganalisa apa yang dilakukan masyarakat untuk bertahan hidup di daerah kita, lebih dari 50% dari mereka menggantungkan hidup dari operasional batu bata.
Mulai dari pengrajin tanah sendiri, pengrajin sewa, buruh batu bata lepas, agen distributor batu bata, penjual kayu, dan lain sebagainya. Semua masih berkecimpung di arus industri batu bata.
Pengolahan batu bata memang sangat mudah. Yang terpenting punya tanah dan air. Untuk marketing juga tidak perlu mencari, karena sudah ada para juragan yang mau menampungnya.
Tapi,, apakah tanah dan air kita kekal?
apakah tanah dan air kita akan menjawab pertanyaan anak cucu kita nanti jika bertanya, "aku harus ngapain di desa ini kek?".
Di sini kita mendapat masalah. Apakah kita yakin akan bertahan di arus industri ini sampai anak cucu kita nanti?. Bagaimana solusinya?.
Kita kembali kepada saudara kita yang menjadi produsen kripik. Bukankah itu akan menjadi jawaban? Jika semua sawah yang sudah hampir habis itu kita isi kembali dengan pertanian.
Pertanian kacang, kedelai dan lainya. Setelah panen kita belajar memproduksi sendiri dan bersama-sama membuat sistem marketing desa. Saya kira itu ide yang harus kita coba. sehingga image kita sebagai "para penjual tanah air" lama-lama akan berubah menjadi "para pengusaha ini dan itu".
Saya hanya bermimpi tadi siang,, tapi saya yakin esok akan ada orang yang menjemput mimpiku itu di sini.
Selamat sore...
Kita kembali kepada saudara kita yang menjadi produsen kripik. Bukankah itu akan menjadi jawaban? Jika semua sawah yang sudah hampir habis itu kita isi kembali dengan pertanian.
Pertanian kacang, kedelai dan lainya. Setelah panen kita belajar memproduksi sendiri dan bersama-sama membuat sistem marketing desa. Saya kira itu ide yang harus kita coba. sehingga image kita sebagai "para penjual tanah air" lama-lama akan berubah menjadi "para pengusaha ini dan itu".
Saya hanya bermimpi tadi siang,, tapi saya yakin esok akan ada orang yang menjemput mimpiku itu di sini.
Selamat sore...