Senin, 28 Oktober 2019

Saya sudah cerdas ??

Selamat siang sobat muda ☺☺
admin mau cerita lagi tentang hasil "ngopi" tadi malem.
setelah jalan-jalan seharian dan setelah temen-temen bergelut dengan kesibukannya masing-masing sehari full, kita sempatkan untuk berhenti sejenak dan berkumpul sambil "ngopi" bareng lagi.
Cerita tentang keluh kesah sebagai orang tua menjadi awal diskusi kami. Ternyata, masik banyak orang tua yang memiliki mindset tidak perlu memberikan perndidikan maksimal untuk anak. Yah,, itu dialami oleh salah satu dari kita sendiri yang bercerita tentang orang tuanya sesekali masih memilih untuk menyimpan uang demi membeli sepetak tanah daripada diberikan kepada cucunya yang sedang menempuh pendidikan. 

Kita sebagai generasi penerus bangsa Indonesia pasca kemerdekaan memang mempunyai tugas berat. Bukan melawan penjajah secara fisik lagi, akan tetapi penjajahan melawan kebodohan. Penjajahan ekonomi, penjajahan idiologi, dan penjajahan ilmu pengetahuan adlah lawan yang kita hadapi sekarang sehingga kita tidak tertinggal oleh bangsa lain.
Oleh karena itu, sangat penting bagi generasi muda ini untuk betul-betul menciptakan perubahan sekecil apapun sebagai bukti bahwa Pemuda adalah tonggak bangsa. 

Admin sadar, betapa sulitnya mengubah mindset masyarakat yang berada di daerah pelosok seperti daerah admin. Tetapi itu bukan sebuah masalah jika kita mulai menyadari akan pentingnya sebuah pendidikan bersama-sama dari generasi ini. Selanjutnya kita membalaskan dendam ini kepada anak cucu kita nanti sebagai balasan ketidak mampuan kita dalam mencari ilmu. Kita berusaha keras bagaimapun caranya agar anak-cucu kita nanti mempunyai pengetahuan yang jauh lebih luas daripada kita. Setidaknya itu akan menjadi cikal bakal yang akan merubah mindset bahwa pendidikan itu memang sangat penting di zaman serba canggih dan era persaingan global seperti ini.

Adanya seorang Dokter spesialis itu karena dia telah belajar bertahun-tahun di sekolah kedokteran. Adanya Handphone canggih itu karena seseorang yang telah belajar teknik, soft ware, hard ware selama puluhan tahun. Munculnya tanaman organik itu juga karena terdapat orang-orang yang telah puluhan tahun mempelajari ilmu biologi, kimia, tekstur tanah, dan lainya. Itu adalah sedikit contoh betapa pentingnya pendidikan. 

Apakah kita sudah terlambat?
no.. no.. no..
Tidak ada kata terlambat untuk sebuah perubahan ke arah yang lebih baik. Tentunya mindset itu perlu kita bangun mulai dari sekarang, akan tetapi bagi kita yang sudah terlanjur tidak sekolah dan ingin mencari ilmu, pasti banyak jalan. Salah satu yang dapat kita lakukan adalah membentuk PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat). Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan serta Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 1 Tahun 2012 tentang Struktur Organisasi dan Tata Kerja Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan Informal. 

Akan tetapi ini harus betul-betul terlahir dari masyarakat secara umum dan menjadi tanggung jawab semua masyarakat. Dengan adanya persamaan visi dan berangkat dari satu keresahan bersama maka bukan hal yang tidak mungkin ini menjadi sarana perjuangan bersama dalam melawan penjajah abadi yang bernama "kebodohan". Dengan adanya pusat belajar di suatu masyarakat tentu akan memperbaiki pola pikir dan pengetahuan masyarakat itu sendiri. dengan seperti itu, lambat laun mereka yang tidak mampu atau belum mengenyam pendidikan akan menyetarakan pengetahuan dan keilmuannya. Mari kita menyadari bahwa pendidikan adalah tiang dunia. 

Selamat hari Sumpah Pemuda 28 Oktober 2019

Jumat, 25 Oktober 2019

Mimpi Manis...

Minum kopi dan nyambung rokok adalah rutinitas malam kami.
Kumpulan orang-orang yang mungkin mendapat image buruk bagi sebagian orang yang melihat apa yang kami lakukan. di saat orang-orang lain tidur, karena besok pagi harus bekerja di sawah, atau membuat batu bata, kami malah asyik ngopi dan ngelinting (rokok buatan sendiri).
Tapi jangan salah, berawal dari ngopi inilah kami mempunyai ide dan mimpi. kami mempunyai mimpi untuk membuat Desa kami lebih maju. Kami tidak ingin, besok anak cucu kami bekerja seperti ayah dan ibu kami yang tiap pagi buta ke "brak boto" (tempat membuat batu bata) bergulat dengan tanah sampai siang. Pulang untuk makan siang dan sholat kemudian pergi ke sana lagi sampai petang. Petang pulang, makan sholat maghrib, isya kemudian tidur. Rutinitas seperti itu yang tidak ingin kami lihat di masa anak cucu kami nanti.

Menjadi generasi millennial ada untungnya dan ada ruginya. Untungnya, tentu kita punya kesempatan untuk mengejar mimpi lebih luas daripada generasi zaman dulu. Mudahnya akses informasi dan banyaknya bidang-bidang baru memberi kita ruang gerak yang luas. Sementara kemajuan zaman juga membuat pikiran juga semakin terbuka. Ruginya, kaum millennial terkenal dengan generasi yang pembosan, sulit konsisten pada satu hal dalam jangka waktu yang lama.

Kita barangkali adalah generasi yang tertarik pada risiko. Bila generasi terdahulu bisa bertahan di suatu tempat hingga puluhan tahun, kita bisa tiba-tiba saja memutuskan ingin pergi karena merasa apa yang kita jalani selama ini bukanlah yang kita inginkan. Lantas dengan semangat mengejar mimpi yang sesungguhnya, kita mengorbankan banyak hal, mulai dari meninggalkan pekerjaan hingga mengeluarkan modal yang besar.

Atas izin Allah, salah satu admin telah menyelesaikan studi pada salah satu Universitas di Jogja dua tahun yang lalu, tepatnya Oktober 2017. Kemarin sempat menjadi salah satu Wakil Kepala Sekolah bagian Kurikulum di salah satu Sekolah swasta di Wonosobo dan hampir di promosikan menggantikan Kepala Sekolah di sana. Akan tetapi komunitas kami (komunitas ngopi) membutuhkan dia untuk bersama-sama memperjuangkan Desa tempat lahirnya. Dengan berbagai pertimbangan akhirnya dia mau meninggalkan kesibukan sebagai pengajar di Sekolah itu dan memulai rutinitas di Dusun yang tentunya tidak seperti rutinitas sebelumnya dari segi lingkungan sosial, budaya maupun ekonomi finansial. Pejuangan butuh pengorbanan brooh hehe.

Tiga bulan berlalu kami sering "ngopi" bareng, membicarakan hal yang jarang dibicarakan masyarakat, mencari masalah dan mencoba mencari jalan keluarnya. Kami belajar mencari segala potensi dan mencoba bermimpi. Tiba suatu siang, admin ngobrol dengan seorang tetangga, pekerjaan sebagai buruh penjahit baju balita. Si Ibu mengeluhkan minimnya pemasukan dari penjahit karena memang rata-rata upah nya tidak lebih dari 30 ribu per hari. Saya bertanya, apakah Ibu bisa menjahit kaos? dan ada berapa ibu-ibu yang menjadi buruh jahit di sini?. Si Ibu menjawab "susah kalo bikin kaos, belum bisa, rumit, mesin nya juga beda dari mesin Ibu, kalo jumlah temen-temen yang ikut buruh jahit sih lumayan banyak, lebih dari 15" katanya. 

Obrolan tadi menjadi bahan "Ngopi" kami di malam berikutnya. Singkat waktu kami mempunyai mimpi untuk membuat konveksi Dusun atau Desa yang di kelola oleh Ibu-ibu tadi. Kami menghimpun ibu-ibu yang sudah mempunyai basic jahit atau yang mau belajar menjahit untuk diberi pelatihan yang bekerjasama dengan PemDes atau BLK. Sementara itu, kami juga menggalang dana untuk merealisasikan apa yang kami impikan. Kami mulai turun ke jalan, menyebar proposal dan mencari sumber dana yang halal untuk mewujudkan ini.

jika sobat muda ada yang mau membantu kami, silahkan kirim donasi dari blog ini atau juga bisa lewat situs berbagi di sini.
Mari kita para millenial untuk bermimpi dan bergegas membuat perubahan.
Selamat malam sobat muda..

Kode HTML:
<a href="https://www.domainesia.com/?aff=11664" target="_blank"><img src="https://goo.gl/VtL511" alt="DomaiNesia"></a>

Selasa, 22 Oktober 2019

Karang Taruna Itu Apa??

selamat sore kaum muda..
22 Oktober 2019 adalah Hari santri Nasional. Setelah tadi malem sedikit berdiskusi dengan temen-temen remaja tentang kegiatan apa untuk memperingati HSN di tahun ini, akhirnya nanti malem akan dilaksankan berdoa bersama di masjid. Sangat bagus ketika momen peringatan nasional diapresiasi oleh masyarakat, apalagi para remaja turut berpartisipasi aktif dalam kegiatan positif. Itu sesuai dengan amanat pasal 17 Permendagri 5/2007 sebagai langkah prefentif mencegah kenakalan remaja. Pada hakikatnya, kegiatan pemuda yang tergabung dalam wadah Karang Taruna memang menjadi proyek pemerintah. Itu dibuktikan dengan adanya UU Desa No. 6 tahun 2014. Akan tetapi, menjadi PR bersama, bahwa aplikasi UU Desa tersebut masih pada tahapan teoritis di lingkungan kepemerintahan sediri. Bahkan terkadang, salah satu aparat pemerintah sendiri tidak tahu bagaimana merealisasikan UU tersebut di wilayah pinggiran. Saya sadari, itu masih kita alami sendiri di daerah kami. Karang Taruna hanya sebatas nama bagian dari lembaga kemasyarakatan Desa. Akan tetapi kegiatan masih monoton, dan lebih terkesan tampa program. Ada beberapa problem yang mesti kita pecahkan, sehingga amanat UU Desa dapat dijalankan sebagaimana mestinya.

Salah satu penyebabnya adalah SDM, generasi muda yang kurang menyadari  pentingnya generasi muda untuk turut berpartisipasi dalam memikul beban pembangunan nasional. Terlepas dari itu, peran pemerintah (dalam hal ini, pemerintah Desa) juga harus mendukung Karang Taruna. Salah satu hambatan juga karena tidak adanya dana yang jelas untuk kegiatan karang taruna yang diberikan oleh pihak Pemerintah Desa, padahal dengan adanya UU Desa yang diatur dalam UU No. 6 tahun 2014 yang didalamnya mengatur tentang dana desa. diharapkan mampu meningkatkan dan mengaktifkan kembali kegiatan karang taruna di Desa untuk menuju Desa agar lebih maju, mandiri, kuat dan demokratis.

Seperti hal nya yang sudah termaktub  dalam UU Desa pasal 13 disebutkan, bah­wa salah satu lembaga Lemasyara­katan Desa yang harus dibentuk pemerin­tah desa adalah Karang Taruna. Dijelaskan pula dalam Pasal 1 angka 14 Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 5 Tahun 2007 tentang Pedoman Penataan Lembaga Kemasyarakatan (“Permendagri 5/2007”), Perlu diketahui bahwa karang taruna termasuk sebagai Lembaga Kemasyarakatan yang merupakan wadah pengembangan generasi muda yang tumbuh dan berkembang atas dasar kesadaran dan rasa tanggung jawab sosial dari, oleh dan untuk masyarakat terutama generasi muda di wilayah Desa/kelurahan atau komunitas adat sederajat dan terutama bergerak di bidang usaha kesejahteraan sosial, yang secara fungsional dibina dan dikembangkan oleh Departemen Sosial. Ditambahkan, bahwa penjelasan amanat UU No.6/2014 tentang Desa sebagaimana termaktub dalam Lembaran Negara RI No. 5495 dalam Bab XII Pasal 94 ayat 2,3 dan Peraturan Pemerintah RI No.43/2014 pasal 150 ayat 1 disebutkan bahwa Lembaga Kemasyarakatan Desa yaitu RT, RW, PKK, Karang Taruna dan LPM yang bertugas membantu Pemerintah Desa dan menjadi mitra dalam memberdayakan Masyarakat Desa.

Sudah jelas dari apa yang sudah dipapakan diatas keberadaan Karang Taruna sebagai salah satu Lembaga Kemasyarakatan sangat diperlukan dan penting keberadaannya didalam Pemerintah Desa guna membantu menuju desa yang mandiri dan mampu mengatur wilayah nya sendiri, karena Karang Taruna mempunyai peran dan fungsinya sendiri dalam keikutsertaan dikancah pembangunan Desa yang mandiri, adapun salah satu fungsi karang taruna, yaitu Pengembangan kreatifitas remaja, pencegahan kenakalan, penyalahgunaan obat terlarang (narkoba) bagi remaja; dan Penanggulangan masalah-masalah sosial, baik secara preventif, rehabilitatif dalam rangka pencegahan kenakalan remaja, penyalahgunaan obat terlarang (Pasal 17 Permendagri 5/2007).

Selain memiliki fungsi karang taruna pun memiliki tugas pokok karang taruna, yaitu secara bersama-sama dengan Pemerintah, Pemerintah Provinsi, dan Pemerintah Kabupaten/Kota serta masyarakat lainnya menyelenggarakan pembinaan generasi muda dan kesejahteraan sosial (Pasal 5 Permensos 77/2010). Mengingat pentingnya fungsi dan tugas karang taruna dalam suatu wilayah atau daerah, pemerintah harus lebih memperhatikan lagi keberadaan Karang Taruna. sebab dengan adanya karang taruna mampu menggali potensi remaja / pemuda dan  kontrol sosial.

ayo semangat wahai kaum muda...
bersama pemuda membangun bangsa.






Mantan Bajingan lebih baik Daripada Mantan Santri


Yups,, 22 Oktober telah ditetapkan oleh Pemerintah sebagai Hari Santri Nasional.
Pemerintah menetapkan itu, tentunya melalui proses panjang dan berbagai pertimbangan.
Tidak bijaksana kalo mimin membahas kebijakan pemerintah itu, karena tahu sendiri, mimin bukan siapa-siapa. Mimin hanya tahu lewat media kalo pemerintah menetapkan itu. Dalam hati mimin, sangat senang dengan apresiasi pemerintah terkait eksistensi santri di Indonesia.
Kalau menengok sejarah, kontribusi santri dalam sejarah kemerdekaan Indonesia memang patut di apresiasi. Banyak tokoh nasional dan garda terdepan  dalam mengusir penjajah adalah barisan santri. Walaupn tidak menafikan peran-peran nasionalis dan bahkan pejuang yang berbeda keyakinan juga tak terhitung banyaknya.
Sebagai generasi bangsa yang seyogyanya tidak melupakan sejarah harus tetap mengapresiasi segala perjuangan dan pengorbanan mereka, siapapun tampa terkecuali termasuk barisan santri.
But wait...
Kadang kita lupa apa definisi dari santri. Apakah mereka adalah orang-orang yang ada di pondok pesantren? Apakah mereka yang mengabdi pada seorang kyai? Atau mereka yang ini dan itu?
Bagi mimin, itu hanya sebuah proses simbolis dari sebutan santri. Mimin teringat akan suatu hal yang telah guru mimin sampaikan. Beliau berkata “mantan bajingan lebih baik daripada mantan santri”.
Waktu itu aku kaget, loh kok bisa?, dalam benakku bertanya.
Belum sempat aku mengeluarkan apa yang menjadi pertanyaan, guruku sudah menjelaskan.
“santri itu bukan hanya sebuah nama, tapi santri adalah intepretasi filosofis dalam islam, seorang santri itu harus mencerminkan namanya, setiap huruf pada kata satri mempunyai makna filosofis yang dalam”
Aku manggut-manggut sambil terus memandangi wajah Abah yang mulai serius.
Sin -abjad pertama pada kata santri- itu mempunyai arti salik yaitu orang yang berorientasi pada akhirat, bukan pada dunia. Jadi kalo ada santri kok nggragas  lan angas (rakus dan tamak) terhadap dunia, itu bukan santri namanya.
Nun –abjad ke dua pada kata santri- itu berarti Naib yaitu santri harus mempunyai visi dan misi sebagai generasi penerus para ulama terdahulu dalam meneruskan estafet perjuangan agama dan negara.
Tak –abjad ke tiga- bermakna Tarik, Santri harus meninggalkan perkara maksiat, santri harus menjaga ketentraman, keamanan, dan tidak menimbulkan perpecahan dalam agama, nangsa dan negara. Kalau ada orang ngaku Santri, tapi perkataan dan perbuatan malah membuat masalah dan menjadi bara gejolak di masyarakat, itu bukanlah seorang santri.
Ra –abjad ke empat kata santri- bermakna Raghib, artinya santri itu senang dengan kebaikan, dan yang terakhir, santri itu harus selalu menjadi pelopor kebaikan dalam rangka berharap keselamatan dunia dan akhirat”
Kira-kira seperti itu, yang mimin ingat tentang pesan Guruku dulu,,
Tetap berjuang dalam mengibarkan bendera perubahan ke arah yang lebih baik, tapi jangan pernah melupakan budaya lama yang sudah baik.

Selamat siang dan selamat hari santri 22 Oktober 2019.


Minggu, 20 Oktober 2019

Contoh membuat latar belakang dalam proposal pertanian

hello sobat muda...
kadang tuh suka mikir kalo hidup di desa tu mau usaha apa?
iya gak sih?
mau bertani tapi belum ada modal. stttt tapi kita bisa loh mengajukan proposal ke dinas pertanian atau yang lain.
kita hanya perlu membuat proposal dan mengirim ke tujuan.
nanti mimin kasih contoh untuk membuat proposal dari menulis latar belakang sampai RAB nya.
baik kan ?? hehe
tapi kalo proposal cair, jangan disalah gunakan loh ya,, hehe
 nih mimin kasih tahu cara buat latar belakang yang baik.
ini mimin ambil dari pengalaman mimin sendiri loh, alhamdulillah cair.


Topografi Dusun Kayuares terdiri tanah subur yang membentuk persawahan dan perbukitan. Dusun Kayuares terletak di perbatasan bukit yang membelah antara Borobudur dan Magelang. Dua Puluh tahun silam, Dusun Kayuares masih hijau dan sejuk dengan pemandangan sawah dan batang-batang pohon yang berdiri. Beberapa tahun terakhir, banyak masyarakat yang berprofesi sebagai petani beralih menjadi pengrajin batu bata. Lahan persawahan yang semula menjadi lahan pertanian beralih menjadi industri batu-bata rumahan. Di satu sisi, industri batu bata meningkatkan ekonomi dengan sirkulasi rupiah yang lebih nyata. Akan tetapi, lahan sawah yang terus diinvasi oleh para pelaku usaha terus tergerus dan habis. Inilah yang dialami oleh masyarakat akhir-akhir ini. Banyak yang telah menyewa lawan orang lain karena kehabisan lahan sendiri. Dan akhirnya banyak yang pergi merantau karena tidak kebagian lahan untuk meneruskan usahanya.
Di sisi lain, pemerintah berupaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat miskin melalui berbagai program pembangunan pemerintah dan pola bantuan hibah. Hal itu tentu memerlukan kerjasama antara pemerintah dan masyarakat. Diantara program pembangunan yang menjadi prioritas dan dapat meningkatkan kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat Dusun Kayuares Desa Paripurno, Kecamatan Salaman adalah memberikan bantuan modal usaha untuk pemberdayaan masyarakat sesuai dengan kemampuan dan keterampilan yang dimiliki serta potensi wilayah, sehingga mereka dapat menata kembali kehidupan dan kesejahteraan sebagaimana layaknya masyarakat pada umumnya.
Sehubungan dengan kondisi tersebut di atas, kami ingin mengembalikan citra dusun kayuares yang asri dan turut serta berpartisipasi dalam mengaktualisasi program pemerintah dengan membentuk Kelompok Usaha Bersama dalam hal Pembibitan dan Penghijauan. Kami mempunyai tekad untuk memperbaiki perekonomian dengan pendampingan dari pemerintah desa dan lembaga terkait.
Mengingat kemampuan yang sangat terbatas, kami atas nama Kelompok Usaha Bersama Pembibitan dan Penghijauan Tunas Mutiara mengajukan permohonan bantuan modal usaha.

Contoh Surat Permohonan Modal


oke sobat muda yang ingin mengembangkan usaha dan butuh modal, nih mimin punya contoh surat permohonan modal,, semoga bermanfaat ya sobat. 

langsung aja nih di simak,,

KELOMPOK USAHA BERSAMA PEMBIBITAN DAN PENGHIJAUAN
 TUNAS MUTIARA
Sekretariat : Dusun Kayuares Desa Paripurno Kecamatan Salaman Kabupaten Magelang
 

No                   : 01/KUBE.TM /II/2019
Lampiran       : 1bendel
Hal                  : Permohonan modal usaha

Kepada Yth :
Bapak Bupati Magelang
Di Mungkid.

Dengan Hormat,
Bersama dengan surat ini, kami Kelompok Usaha Bersama Pembibitan dan PenghijauanTUNAS MUTIARA” yang beralamat di Dusun Kayuares Desa Paripurno Salaman Kab. Magelang menyampaikan Proposal Permohonan Bantuan Modal Peternakan untuk Pemberdayaan Ekonomi Petani dan Peternak .
Adapun permohonan anggaran yang kami ajukan adalah sebesar Rp. 93.000.000,- (dua puluh juta rupiah) yang akan kami peruntukkan bagi kebutuhan kelompok usaha kami.

Demikian proposal ini kami ajukan, atas perhatian dan kerjasamanya kami ucapkan terimakasih.



Ketua




M. Sidiq


Paripurno, 20 Oktober 2019
Sekretaris




Fariq Ansori
Camat Salaman




JONI INDARTO.AP.Msi
Nip.197412041993111001

Kepala Desa Paripurno




IKHWAN


Tembusan:
1. Kepala Bagian Kesra Sekda Kab.Magelang
2. Kepala Bagian Administrasi Pembangunan
3. Camat Salaman
4. Kepala Desa Paripurno
5. Arsip

Sabtu, 19 Oktober 2019

Menjual Tanah Air

Stop!!!!
Jangan gagal faham dulu.
Jadi ini bukan pemberontakan loh ya.
Ini soal bagaimana kami bertahan hidup.
Yes, that's true...
Kok bisa?
Latar belakang kami sebagai orang tertinggal dan perekonomian kelas bawah adalah indikator mayor.
Geografis sebenarnya bukan faktor, akan tetapi rendahnya kualitas SDM, diakui atau tidak adalah batu besar yang menghalangi kami untuk maju dalam bidang ekonomi.
Lingkungan kami masih berada jauh dari perkotaan. kami harus menempuh satu kilo-an untuk mencium bau aspal, dan kurang lebih 3 kiloan untuk beradu mulut di pasar tradisional.
tapi,,,
Untuk era saat ini, di mana semua dipermudah. harusnya itu semua bukan masalah.
Yang terpenting adalah bagaimana seseorang itu mencari terobosan-terobosan bagi apa yang dia inginkan.
Dalam ekonomi misalnya, saudarakau adalah produsen makanan ringan yang terbuat dari kacang-kacangan. Setiap hari dia memproduksi dan menjualnya di daerah wisata Candi Borobudur.
Pertanyaannya, kenapa harus dijual di sana?
Alasannya tentu di sana adalah kawasan wisata, nilai konsumtif tinggi, dan tentunya pasar kota akan membedakan harga produk.
Apa yang salah?
Tidak ada yang salah untuk kekuatan SDM pingiran seperti kita. Bahkan itu adalah aset yang perlu kita optimalkan bersama. Berawal dari satu orang produsen yang memulai langkah interpreneur, akan menularkan jiwa wirausaha, dengan catatan adanya kerjasama berbagai pihak.
Sedikit menganalisa apa yang dilakukan masyarakat untuk bertahan hidup di daerah kita, lebih dari 50% dari mereka menggantungkan hidup dari operasional batu bata.
Mulai dari pengrajin tanah sendiri, pengrajin sewa, buruh batu bata lepas, agen distributor batu bata, penjual kayu, dan lain sebagainya. Semua masih berkecimpung di arus industri batu bata.
Pengolahan batu bata memang sangat mudah. Yang terpenting punya tanah dan air. Untuk marketing juga tidak perlu mencari, karena sudah ada para juragan yang mau menampungnya.
Tapi,, apakah tanah dan air kita kekal?
apakah tanah dan air kita akan menjawab pertanyaan anak cucu kita nanti jika bertanya, "aku harus ngapain di desa ini kek?".
Di sini kita mendapat masalah. Apakah kita yakin akan bertahan di arus industri ini sampai anak cucu kita nanti?. Bagaimana solusinya?.
Kita kembali kepada saudara kita yang menjadi produsen kripik. Bukankah itu akan menjadi jawaban?  Jika semua sawah yang sudah hampir habis itu kita isi kembali dengan pertanian.
Pertanian kacang, kedelai dan lainya. Setelah panen kita belajar memproduksi sendiri dan bersama-sama membuat sistem marketing desa. Saya kira itu ide yang harus kita coba. sehingga image kita sebagai "para penjual tanah air" lama-lama akan berubah menjadi "para pengusaha ini dan itu".
Saya hanya bermimpi tadi siang,, tapi saya yakin esok akan ada orang yang menjemput mimpiku itu di sini.
Selamat sore...

Senin, 14 Oktober 2019

Tentang Karang Taruna Dadi Rukun Kayuares

gak terasa kami telah memasuki fase di mana kami harus terbangun melihat keadaan di desa kami. telah sekian lama terlelap dalam kenyamanan seorang pemuda yang seolah tiada beban. Ahad Legi 13 Oktober 2019, penasihat kami "Gus Zein" memberikan nasihat dalam kesempatan tatap jumpa rutin pemuda di rumah bapak Kamil. Sudah tiga periode alih kepemimpinan Karang taruna, dari mulai kepemimpinan "Kang Dul", "Kang Tah", sampai kini dibawah kemudi "Kang Ron", kami serasa belum terbangun untuk berdiri dan bergegas membangun desa kami sendiri. Sudah lah kita bangga dengan jerih payah para senior kami dalam memberikan berbagai fasilitas yang telah menjadi aset kami. 
Tiga era tadi telah menghasilkan banyak aset seperti, sound sistem, tenda, gerabah, dan lainnya. Akan tetapi, sebentar lagi mereka juga harus mengalah dengan usia mereka. Waktu akan memaksa generasi penerus mereka untuk bersedia menerima estafet perjuangan desa ini. Harapan mulai terang ketika seorang pemuda berani mengambil keputusan untuk mewakili masyarakat sebagai penanggung jawab Dusun Kayuares yang telah beberapa periode Kayuares dipimpin oleh non pribumi. Terimakasih kami kepada sahabat "Farik Ansori" yang bersedia mewakili kami dalam menyambung aspirasi kami sampai ke Desa Paripurno. 
Telah kita rasakan sebelum tahun 2018, bahwa Kayuares seolah berjalan di tempat ketika tidak ada wakil kami yang menyambung aspirasi sampai ke Desa. Kekosongan pembangunan telah kami rasakan bersama selama dua tahun (2016-2018). Itu tidak lain karena tidak adanya orang yang bertanggung jawab untuk kemajuan Dusun Kayuares. Kini harapan kami sedikit terbuka karena seorang pemuda telah terbangun dan bersedia berjuang untuk kemajuan Dusun kami tercinta. Tepat hari ini, 14 Oktober 2019, adalah bukti eksistensi seorang pemuda dalam membangun dusun kami. Kami saling bersinergi untuk menuntut hak kami serta melaksanakan kewajiban kami. Kami berkewajiban untuk memelihara dusun kami dari segala ancaman, termasuk ancaman ketidak adilan para penguasa yang memalingkan hak kami. Alhamdulillah, satu demi satu hak kami diperoleh. Mulai dari rampungnya pembangunan berkelanjutan di daerah kami, sampai lahirnya kelompok sadar sosial di daerah kami. 
Perjuangan baru dimulai. Ini adalah awal dari perjuangan kami untuk membangun Desa kami. Kami akan berusaha terus merekrut para pemuda generasi penerus di semua penjuru Paripurno yang mempunyai visi dan misi membangun Desa bersama. Dengan bersatunya seluruh pemuda, kami mempunyai tanggung jawab besar dalam menjawab ketidak percayaan masyarakat atas generasi ini. Tanah kami mulai habis, sedangkan ekonomi kami masih bergantung pada tanah kami. Itu adalah pertanyaan besar yang harus kami jawab bersama.
bersambung....

Saya sudah cerdas ??

Selamat siang sobat muda ☺☺ admin mau cerita lagi tentang hasil "ngopi" tadi malem. setelah jalan-jalan seharian dan setelah...