Cerita sang BUCIN


Awal kisahku
Pagi itu, 13 juli 2019. Aku masih biasa dalam kesibukan liburanku. Menikmati pagi dengan segelas kopi dan sebatang rokok di tangan kiriku. Tak lupa, aku juga ditemani layar Dell kesayanganku. aku menatapnya dan menggerakkan jari jariku menari di atas keyboard baru yang masih terbungkus plastik putih karena aku tak ingin melihat dia berdebu. Aku tengok jendela kamarku, kulihat lambaian daun ketela seolah memberikan isyarat “nikmatilah pagimu sebelum esok kau tak akan menikmati pagi lagi”.
Ya pagi itupun kunikmati sambil terus meliarkan otak mencari konsep desain yang aku kerjakan. Beberapa menit aku terpaku memikirkan satu konsep dan payahnya pagi itu tak satupun konsep yang aku temukan. Sialnya, aku malah melamun tak tahu apa yang aku pikirkan.
 Terdengar suara notifikasi "ting tong" memecah segala lamunanku. Aku melirik kearah Hp disampingku dan kutatap kembali monitor Dell kesayanganku. “Paling  juga notifikasi dari indosat kayak biasanya” pikirku. Tanganku kembali memegang mouse dan kucoba semakin meliarkan otakku untuk mencari konsep desain dari proyek yang sedang kukerjakan. Otakku terus kesana kemari, terus mecari dan berfikir keras dan akhirnya tak satupun ide ditemuinya. Pagi yang seharusnya waktu yang tepat untuk berfikir malah menjadi pagi yang membosankan. Kuambil rokok kembali dan sedikit menghisapnya. Secangkir kopi yang telah dingin kuteguk dan mencoba sedikit santai. Kuhentikan otakku dalam pencariannya. Kupejamkan mataku dan kunikmati penyakit dari setiap asap rokok yang masuk bersama nafasku.
Menitpun berganti dan kurasa rokokku telah mencapai batas yang dapat kunikmati. Hanya sepuntung rokoklah yang selama ini dapat menemani dan menghilangkan sedikit stress dalam hidupku. Yaah,, kutahu itu sugesti buruk yang aku rasakan, tapi setidakknya itu menolong dalam kesendirianku. Pekerjaan ku sebagai seorang desainer dan salah satu pengajar salah satu lembaga pendidikan memang telah cukup menghabiskan siang dan malamku. Setidaknya itu telah sedikit mencuri waktuku yang mungkin tak akan berharga jika aku tak melakukan pekerjaan itu. Saat matahari mulai menampakkan panasnya, saat itu juga teman-teman dan anak-anakku berusaha mencari ilmu-ilmu Tuhan dalam sebuah keluarga di pondokan kecil. Aku tidak  menyebutkannya sebuah sekolah, bukan berarti aku tidak menganggap itu sebuah lembaga pendidikan. Aku lebih suka menganggap itu adalah keluarga yang saling memberitahu dan  menuntun untuk mencapai Tuhan. Disitulah aku dan temanku menghabiskan waktu sampai matahari meninggalkan kami terlebih dahulu.
Jika malam datang, kadang aku masih bersama temanku dipondokan kecil itu dan sedikit berbicara tentang ilmu Tuhan yang lain. Mungkin ilmu yang lebih spesifik membawa kami lebih mengenal Tuhan kami. Setelah sebagian besar orang orang di lingkungan kami bergelut dengan guling mereka, saat itulah aku berada dalam wujud lain. Bukanlah seorang yang bergelut dengan ilmu, melainkan seorang yang berambisi mewujudkan mimpi keluargannya. Disaat mereka memeluk mimpinya saat itulah aku juga ingin memeluk mimpi orang tuaku yang menginginkan aku menjadi orang yang bermanfaat bagi masyarakatku. Dari mimpi mereka aku mempunyai janji pada diriku sendiri untuk mengentaskan kemiskinan tempat di mana aku dilahirkan. Aku berusaha mencari janji Tuhan yang akan memberikan rizki pada setiap hambanya melalui malamku. Kulalui malam untuk mencari janji Tuhan itu dan juga bentuk usahaku untuk menepati janji pada diriku.
Itu adalah kesibukan di saat jadwal sekolah dan pesantren tidak libur seperti saat ini. Jika liburan, terpaksa hari-hariku hanya di kamar dan bercengkrama dengan komputer.
Setelah lama aku tak menemukan konsep di pagi ini, aku berniat bermain game dan mengambil handphone yang tertancap kabel data di samping jendela. Aku buka kunci Hp dan memijiitnya seperti biasa. Aku melihat ada titik merah di atas ikon instagram tanda notifikasi di dalamnya. Aku buka dan kulihat apa yang terjadi di sana.
Yuuuu yeeeiii ... akhirnya....
Aku difollow balik oleh akun seseorang yang udah lama aku ikuti. Aku telah lama mengikuti akun itu, bahkan sebelum youtube merajai sosial media seperti sekarang ini aku telah mengikuti akun itu. Aku masih ingat saat semua orang memakai platform BBM dan itu sudah sangat lama. Aku pun telah “kepo” pada orang itu sampai aku mencari akun medsos dia yang lain. Aku menemukan akun fb dan kita berteman di sana. Aku ingat, saat aku mengirim lima pesan dan tak satupun dibalas olehnya. Oh iya, dia membalas di pesan terakhir dengan balasan hanya satu yaitu tanda titik. itu adalah tiga tahun yang lalu, tepatnya mungkin tahun 2016 saat aku masih bergelut dengan buku, dosen kopi dan air laut.
Saking senengnya melihat dia follow balik, aku segera masuk ke bagian pesan dan mengirim pesan pertama melaluai akun IG.
“Matur nuwun sampun follback” kataku.
Njih sami”. Diapun membalas
“selamat nggih”, aku memulai basa basi skaligus benar benar mengucapkan selamat atas kelulusannya.
“selamat napane?” dia menjawab dan bertanya, mungkin dia bingung karena tiba-tiba diucapin selamat oleh orang yang tidak ia kenal. Salahku juga sih, agak telat dalam ngucapin atas kelulusan itu.
“kadose kemarin wisuda”, aku berusaha mengingatkannya.
“Ohhh njih” matursuwun”, dia pun membalas dengan tampa basa basi sehingga membuat aku bingung mencari pembahasan apalagi sehingga kita tetap saling berkirim pesan karena aku ingin sekali mengenal dia, bahkan sejak lama. Aku mulai bertanya-tanya apa yang akan dia lanjutkan setelah dia lulus dan yang lainya. Kami saling berkirim pesan dan tiba-tiba dia mengirim nomer Hp di DM IG. Itu adalah hal terindah di pagi itu. Aku hampir tidak percaya terhadap apa yang terjadi di pagi itu. Kenapa tiba-tiba kesunyian dan kebosanan pagi berubah trbalik menjadi cerah dan indah. Saat itu juga aku mengingat bahwa Allah adalah Penguasa segala yang di bumi, di langit, dimanapun bahkan di hati manusia. Hati yang sedih, seketika akan bahagia jika Allah menginginkan hal itu. Aku bersyukur dan semoga tetap terus menjadi orang yang selalu bersyukur pada apapun nikmat yang Allah berikan padaku.
Aku menyimpan nomor handphone itu dan kembali mengirim pesan lewat aplikasi yang lebih simpel. Kita terus saling berkirim pesan sehingga aku dapat mendengar suara halus dan lembut dari seoarang wanita yang telah lama ingin aku mendengar dan menatapnya. Pernah dua kali aku mendapat kesempatan untuk bertegur sapa dengan dia, tapi rasa takut menyelimutiku sehingga dua kesmpatan itu berlalu tampa sepatah katapun terucap dari bibirku untuk nya. Itu lah sedikit awal kisahku dengan dia yang telah lama aku mengaguminya.

Tidak ada komentar:

Saya sudah cerdas ??

Selamat siang sobat muda ☺☺ admin mau cerita lagi tentang hasil "ngopi" tadi malem. setelah jalan-jalan seharian dan setelah...