Yups,, 22 Oktober telah ditetapkan oleh Pemerintah sebagai
Hari Santri Nasional.
Pemerintah menetapkan itu, tentunya melalui proses panjang
dan berbagai pertimbangan.
Tidak bijaksana kalo mimin membahas kebijakan pemerintah
itu, karena tahu sendiri, mimin bukan siapa-siapa. Mimin hanya tahu lewat media kalo pemerintah
menetapkan itu. Dalam hati mimin, sangat senang dengan apresiasi pemerintah
terkait eksistensi santri di Indonesia.
Kalau menengok sejarah, kontribusi santri dalam sejarah
kemerdekaan Indonesia memang patut di apresiasi. Banyak tokoh nasional dan
garda terdepan dalam mengusir penjajah
adalah barisan santri. Walaupn tidak menafikan peran-peran nasionalis dan
bahkan pejuang yang berbeda keyakinan juga tak terhitung banyaknya.
Sebagai generasi bangsa yang seyogyanya tidak melupakan
sejarah harus tetap mengapresiasi segala perjuangan dan pengorbanan mereka,
siapapun tampa terkecuali termasuk barisan santri.
But wait...
Kadang kita lupa apa definisi dari santri. Apakah mereka adalah
orang-orang yang ada di pondok pesantren? Apakah mereka yang mengabdi pada
seorang kyai? Atau mereka yang ini dan itu?
Bagi mimin, itu hanya sebuah proses simbolis dari sebutan
santri. Mimin teringat akan suatu hal yang telah guru mimin sampaikan. Beliau berkata
“mantan bajingan lebih baik daripada mantan santri”.
Waktu itu aku kaget, loh kok bisa?, dalam benakku bertanya.
Belum sempat aku mengeluarkan apa yang menjadi pertanyaan,
guruku sudah menjelaskan.
“santri itu bukan hanya sebuah nama, tapi santri adalah
intepretasi filosofis dalam islam, seorang santri itu harus mencerminkan
namanya, setiap huruf pada kata satri mempunyai makna filosofis yang dalam”
Aku manggut-manggut sambil terus memandangi wajah Abah yang
mulai serius.
“Sin -abjad pertama pada kata santri- itu mempunyai arti salik yaitu orang yang berorientasi pada
akhirat, bukan pada dunia. Jadi kalo ada santri kok nggragas lan angas (rakus dan tamak) terhadap dunia, itu bukan santri namanya.
Nun –abjad ke dua pada kata santri- itu berarti Naib yaitu santri harus mempunyai visi
dan misi sebagai generasi penerus para ulama terdahulu dalam meneruskan estafet
perjuangan agama dan negara.
Tak –abjad ke tiga- bermakna Tarik, Santri harus
meninggalkan perkara maksiat, santri harus menjaga ketentraman, keamanan, dan
tidak menimbulkan perpecahan dalam agama, nangsa dan negara. Kalau ada orang
ngaku Santri, tapi perkataan dan perbuatan malah membuat masalah dan menjadi
bara gejolak di masyarakat, itu bukanlah seorang santri.
Ra –abjad ke empat kata santri- bermakna Raghib, artinya santri itu senang dengan kebaikan, dan yang
terakhir, santri itu harus selalu menjadi pelopor kebaikan dalam rangka
berharap keselamatan dunia dan akhirat”
Kira-kira seperti itu, yang mimin ingat tentang pesan Guruku
dulu,,
Tetap berjuang dalam mengibarkan bendera perubahan ke arah
yang lebih baik, tapi jangan pernah melupakan budaya lama yang sudah baik.
Selamat siang dan selamat hari santri 22 Oktober 2019.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar